Dampak kemiskinan
Dampak kemisikinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks.
Pertama, pengangguran. Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka
tahun 2007 saja, sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis,”
mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. Dengan
banyaknya pengangguran, berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan
karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan,
mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran
telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat, sehingga akan berdampak
langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran
rata-rata.
Senin, 10 Oktober 2011
Kekerasan
Kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini
merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari
nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi
seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya, maka jalan
pintas pun dilakukan. Misalnya merampok, menodong, mencuri, atau menipu (dengan
cara mengintimidasi orang lain) di atas kendaraan umum dengan berpura-pura
sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi, dan
sebagainya.
Pendidikan
Pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang
terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak
dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas, mereka tak dapat
menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin.
Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. Bagaimana seorang
penarik becak misalnya, yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari
kemiskinan, ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher?
Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan
tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi, sesungguhnya
negara sudah melakukan “pemiskinan struktural” terhadap rakyatnya.
Musuh utama bangsa
Musuh utama bangsa
Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang, khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya, karena selama ini pemerintah (tampak limbo) belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran dan kekerasan, selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi (makro) semata. Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik
Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang, khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya, karena selama ini pemerintah (tampak limbo) belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran dan kekerasan, selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi (makro) semata. Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik
Kamis, 14 Juli 2011
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda rasulullah saw :”Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras.”[HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar]
BEGITU BANYAK KENYATAAN YANG SULIT DIPIKIR DENGAN LOGIKA
Seorang berlomba dengan kekayaan
semua menunjukkan kesombongannya
tapi disisi lain masih banyak manusia dipinggiran minta pertolongan
tapi semua semakin lupa akan sesama
betulkah "nurani telah hilang"
dan agama bagaikan seremoni belaka
bukan aplikasinya
tetapi sekedar didepan nama
dada kianterpenuhi napsu angkara
manusia semakin banyak yang lupa
dan hanya waktulah yang menyaksikan "KAPAN"
dan "KAPAN"
semua ini berakhir
semua menunjukkan kesombongannya
tapi disisi lain masih banyak manusia dipinggiran minta pertolongan
tapi semua semakin lupa akan sesama
betulkah "nurani telah hilang"
dan agama bagaikan seremoni belaka
bukan aplikasinya
tetapi sekedar didepan nama
dada kianterpenuhi napsu angkara
manusia semakin banyak yang lupa
dan hanya waktulah yang menyaksikan "KAPAN"
dan "KAPAN"
semua ini berakhir
Rabu, 13 Juli 2011
Langganan:
Postingan (Atom)



